Matematika Sedekah dan Kisah Sedekah Dibalas 50 kali lipat



Diantara sekian banyak ibadah dalam islam, mungkin hanya sedekah yang paling cepat dibalasnya. seperti kisah sedekah Ali bin Abu Thalib ra berikut ini :

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, Ali bercerita kepadanya, bahwa ketika ia pulang dari menghadap Rasulullah menuju ke rumahnya, lalu ia menemui Fatimah istri tercintanya sedang duduk. Sementara di depannya terdapat Salman sedang duduk dan membuka bingkisan yang terbungkus kain wol lalu memberikannya kepada Fatimah. 

Ali RA berkata kepada Fatimah RA : “Wahai wanita termulia, apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa kita makan?” Fatimah R.A menjawab : “Aku tidak memiliki sesuatupun. Akan tetapi ini ada enam dirham. Salman telah memberikannya kepadaku. Aku membungkusnya dengan kain wol. Aku bermaksud membeli makanan untuk Hasan dan Husain RA dengannya.”

Ali R.A berkata : “Wahai wanita termulia berikan kepadaku”. Lalu Fathimah RA memberikan dirham itu kepada Ali R.A. Ali bin Abi Thalib pun keluar rumah hendak membeli makanan dengan dirham itu.

Saat di perjalanan tiba-tiba langkahnya dihadang seorang lelaki Badui yang berdiri di depannya seraya berkata : “Siapa yang ingin menghutangi Allah Yang Maha Menguasai dan Yang Memberikan Kecukupan ?”. Maka Ali r.a mendekati orang tersebut dan menyerahkan enam dirham kepadanya.

Setelah itu Ali pun pulang ke rumah. Fathimah pun menyambut kedatangan sang suami, Ali bin Abi Thalib. Tapi melihat Ali R.A datang dengan tangan hampa, Fathimah pun menangis.

“Wahai Wanita Termulia, mengapa engkau menangis ?“ Jawab Fathimah R.A : “Wahai Putra Paman Rasulullah SAW mengapa engkau kembali dengan  tangan  hampa,  tak membawa sedikitpun makanan ?” Ali bin Abi Thalib menjawab : “Aku memberi pinjaman hutang kepada Allah dengan enam dirham tersebut”,  Fathimah menjawab : “Engkau mendapatkan petunjuk dan telah melakukan hal yang benar”

 Ali pun setelahnya pergi hendak menuju rumah Rasulullah SAW, dan ia bertemu seorang Badui menggiring unta mendekatinya lalu ia berkata :”Wahai Abul Hasan ( ayah Hasan, sebuah panggilan bagi Ali R.A) belilah unta ini dariku.”

Ali r.a menjawab : “Aku tidak memiliki apapun untuk membeli unta tersebut”. Badui berkata : “Aku menjual kepadamu dengan pembayaran tempo”. Ali berkata : “Dengan harga berapa?”. Badui menjawab : “Harga unta ini seratus dirham”. “Baiklah aku beli “kata Ali r.a

Tidak lama setelah Badui itu menghilang dari pandangan matanya, tiba-tiba seorang Badui lain datang mendekatinya dan berkata : “Hai, Abu Hasan, apakah engkau menjual unta ini?”, “Ya” Jawab Ali bin Abi Thalib. “Dengan harga berapa ? “tanya Badui itu. “Dengan harga tiga ratus dirham” kata Ali r.a. “Baiklah , aku beli unta anda, wahai Abu Hasan” Lalu Badui itu membayar tiga ratus dirham secara kontan. Kemudian ia terima tali kekang unta yang diberikan Ali kepadanya.

 Ali bin Abi Thalib pun pulang menemui Fathimah seraya tersenyum.  “Wahai putri Rasulullah, aku membeli seekor unta seharga seratus dirham dengan pembayaran tempo. Dan aku menjualnya dengan tiga ratus dirham dengan harga kontan“.  “Sungguh engkau benar-benar mendapatkan petunjuk dan pertolongan” jawab Fathimah sambil terus bersyukur memuji kebesaran Allah SWT. Lalu Ali  menemui Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menyambut Ali di pintu masjid dengan tersenyum lalu bersabda :”Wahai Abul Hasan apakah engkau akan memberitahu padaku atau aku yang akan memberitahu padamu?“. “Hanya Allah dan Rasul Nya yang mengetahui apa yang ada di sisi Nya yang terbaik” jawab Ali bin Abi Thalib.

Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu tahu siapa Badui yang menjual unta dan Badui yang membeli unta darimu ?” “Hanya Allah dan RasulNya lebih mengetahuinya” Jawab Ali.

“Sungguh engkau beruntung, beruntung dan beruntung wahai Ali. Engkau memberi pinjaman kepada Allah SWT enam dirham. Dan Allah SWT melipatgandakan kepadamu setiap satu dirham sebanyak lima puluh dirham , sehingga menjadi tiga ratus dirham. Ketahuilah bahwa Badui yang pertama menjual unta kepadamu dengan pembayaran tempo adalah Malaikat Jibril a.s , sedangkan Badui yang kedua ( yang membeli unta darimu dengan kontan ) adalah Malaikat Israfil a.s”

 Menurut riwayat yang lain, “Orang yang menyerupai Badui yang pertama adalah “Malaikat Jibril” sedangkan orang yang menyerupai Badui kedua adalah Malaikat Mikail a.s


Ternyata sedekah memiliki banyak keutamaan dan keberkahan terutama dalam hal rejeki. Lebih bagus bila sedekah yang kita keluarkan diniatkan untuk dan karena Allah semata dan tidak mengharapkan balasan. Masih ingat matematika pembagian sedekah ? bukan matematika pengalian sedekah ya.

1 : 1 = 1
1 : 2 = 1/2
1 : 10 = 1/10
1 : 100 = 1/100
1 : 0 = unlimited

Ketika kita memberi satu dan mengharapkan balasan satu, maka kita hanya mendapatkan satu. Jika kita memberi 1 dan mengharapkan 100, maka yang kita dapatkan adalah seperseratus. Ini artinya, semakin banyak kita mengharapkan balasannya maka semakin kecil yang kita dapat. contohnya; kita bersedekah dengan uang sebesar 10ribu rupiah, tetapi kita mengharapkan Allah membalasnya dengan memberikan sebuah mobil sport lambhorgini, kira-kira terkabul ga?

Lain halnya jika kita memberi satu dan tidak mengharapkan apa-apa (nol) selain ridho Allah semata. Maka jangan heran jika Allah membalasnya hingga ratusan kali lipat bahkan tidak terhingga.

Jangan beranggapan bahwa kita tidak boleh berharap apa-apa saat bersedekah. BOLEH ! sangat boleh sekali anda mengharapkan balasan Allah. Tapi ya itu tadi, sedekah harus setimpal dengan harapan/keinginan. Jika anda ingin punya rumah, maka sedekahlah minimal 10% dari harga rumah. Insya Allah tercapai. Bagaimana cara terkabulnya, biarkanlah itu urusan Allah.

Subscribe to receive free email updates: