Penyebab Kegagalan ; #1 Penyakit Excusitis Kesehatan

penyebab gagal

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak sukses dalam hidupnya, salah satunya adalah memiliki penyakit pikiran yang dinamakan “excusitis” alias ber alasan. Excusitis memberikan perbedaan antara yang sukses, kurang sukses dan yang gagal. Anda akan mendapati bahwa makin sukses dia, makin kurang dia mencari alasan-alasan (excuse). Itulah sebabnya penyakit ini dinamakan excusitis.

Tapi orang yang tak berhasil, gagal, karena tak ada rencana kemana ia harus pergi, selalu mempunyai berbagai alasan, untuk menjelaskan apa sebabnya mereka mengalami kegagalan.

Sebagaimana halnya semua penyakit, excusitis akan makin parah, kalau tidak diobati dengan tepat dan seksama. Korban penyakit ini dalam proses mentalnya mengatakan kepada dirinya sendiri tentang sakit-sakitan, kurang Pendidikan, terlalu tua, terlalu muda, kurang beruntung, faktor istri, cara keluarga mendidik saya, dan seterusnya.

Sekali korban penyakit kegagalan ini telah memilih “alasan yang tepat”, maka ia membuat alasan ini sebagai pegangan. Kemudian ia mempercayakan kepada alasan ini untuk menjelaskan pada diri sendiri dan orang lain, mengapa ia tidak maju-maju. Dan setiap kali ia mengajukan alasan itu, maka alasan itu makin menghujam pikiran bawahsadarnya. Pikiran, positif atau negative, akan menjadi semakin kuat kalua diulangi terus menerus. Mula-mula penderita penyakit excusitis itu sadar bahwa alasan-alasannya itu tidak begitu benar. Akan tetapi makin diulangi, makin yakinlah dia bahwa akhirnya menjadi benar demikian, bahwa alibinya itu merupakan alasan sebenarnya dari kegagalannya.

Excusitis muncul dalam berbagai bentuk, tapi bentuk yang parah dari penyakit excusitis adalah excusitis kesehatan, excusitis inteligensi, excusitis umur, dan excusitis nasib.

EXCUSITIS KESEHATAN

Kesehatan yang “buruk”, dalam beribu-ribu bentuk, digunakan sebagai alasan untuk membenarkan kegagalan melakukan sesuatu yang diinginkan, gagal menerima tanggungjawab yang lebih besar, gagal mendapatkan uang yang lebih banyak, gagal mencapai sukses. Ia menaruh belas kasihan pada diri sendiri, sehingga menjadi orang yang tak berdaya.

SOLUSI

1. Jangan berbicara tentang kesehatan anda.

Makin banyak anda berbicara tentang sesuatu penyakit, meski itu hanya masuk angin, maka makin parah penyakit itu jadinya. Berbicara soal penyakit sama saja seperti memberi pupuk pada tanaman. Disamping itu, berbicara mengenai kesehatan sendiri adalah kebiasaan buruk, membosankan orang lain yang mendengarnya, membuat dia terlihat egosentris dan cengeng.

2. Jangan mau mencemaskan kesehatan anda.

Dr. Walter Alvarez, konsultan pada Mayo Klinik di Amerika, mengatakan “saya selalu meminta kepada orang-orang yang gelisah, supaya sedikit mengendalikan diri. Misalnya, apabila saya melihat orang ini (orang yang yakin empedunya harus disinar X, meskipun organnya itu sehat tak kurang suatu apa) saya mohon kepadanya supaya jangan minta disinar. Juga saya minta kepada berates-ratus orang yang mencemaskan jantungnya, supaya jangan dibuatkan electrocardiogram”. Karena hasil dari pemeriksaan itu hanya akan menambah kecemasan dan bikin kalut pikiran, yang pada akhirnya malah menambah parah sakit yang diderita.

3. Bersyukurlah dengan Kesehatan anda yang sekarang.

Ada suatu ungkapan kuno yang pantas diulangi; “saya kecewa karena sepatu saya rusak tetapi kekecewaan itu hilang setelah saya melihat orang yang tak memiliki kaki”. Merasa senang dan bahagia adalah jauh lebih baik daripada mengeluh soal kesehatan yang buruk. Justru dengan merasa syukur dan bahagia dengan kesehatan anda merupakan suntikan yang dapat menghentikan berkembangnya penyakit-penyakit baru.

4. Sering mengingatkan diri sendiri.

Bahwa lebih baik letih karena bekerja daripada letih karena menganggur. Karena hidup ini adalah untuk dinikmati. Jangan disia-siakan. Jangan pernah memikirkan anda akan terlentang di ranjang rumah sakit.





Bersambung

Subscribe to receive free email updates: